Terletak di Dusun Kedulan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta,sekitar 2,5 km dari Candi Sambisari. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno.
Candi ini sedang dalam proses penggalian dan
rekonstruksi, karena pada saat ditemukan, reruntuhan candi dalam keadaan
tertimbun tanah yang berasal dari lahar Gunung Merapi.

untuk menyusun kembali masih terkendala berbagai hambatn, salah satunya keadaan tanah disekitar reruntuhan candi yang merupakan persawahan, sehingga saat digali, banyak mengeluarkan air dan membentuk sebuah kolam.
Bentuk Candi
Penambangan pasir kemudian dihentikan, dilanjutkan penggalian arkeologi yang dilakukan oleh BP3 secara bertahap. Saat penggalian lanjutan, kondisi candi sudah roboh, batu-batunya terserak karena diterjang lahar Merapi dan terkubur pada kedalaman enam meter di bawah permukaan tanah. Setelah petugas arkeolog menggali sedalam tujuh meter di lahan seluas 4,000 meter persegi, terpampanglah candi induk Kedulan. Candi berdenah bujur sangkar ini memiliki panjang 13.7 meter dan tinggi 8.009 meter.

Bentuk dan ukuran candi utamanya juga tidak jauh berbeda. Di tengah bangunan utama terdapat lingga dan yoni. Pagar luar seperti yang ditemukan di Candi Kedulan terdapat juga di Candi Sambisari. Di Candi Kedulan ditemukan juga arca Durga Mahesasuramahardini di utara, arca Ganesha di barat, arca Agastya dan Mahakala di selatan, serta Nandiswara di kanan-kiri pintu masuk candi.
Saat ini, yang sudah terbuka baru candi perwara yang berada di ujung selatan. Candi perwara ini berada empat meter di bawah permukaan tanah. Lokasi candi perwara ini berada persis di bawah jalan kampung.
Sementara candi perwara tengah sedang dalam proses penggalian dan sudah menampakkan beberapa batu candi, sedangkan candi perwara di sisi utara sama sekali belum digali.
Pada masa penggalian, di dekat arca Agastya, ditemukan dua buah prasasti yang masing-masing panjangnya 75 cm, lebar 45 cm dan tebal sekitar 23 cm. Kedua prasasti ini ditulis dengan huruf Palawa dan berbahasa Sansekerta.
Saat ini, yang sudah terbuka baru candi perwara yang berada di ujung selatan. Candi perwara ini berada empat meter di bawah permukaan tanah. Lokasi candi perwara ini berada persis di bawah jalan kampung.
Sementara candi perwara tengah sedang dalam proses penggalian dan sudah menampakkan beberapa batu candi, sedangkan candi perwara di sisi utara sama sekali belum digali.
Pada masa penggalian, di dekat arca Agastya, ditemukan dua buah prasasti yang masing-masing panjangnya 75 cm, lebar 45 cm dan tebal sekitar 23 cm. Kedua prasasti ini ditulis dengan huruf Palawa dan berbahasa Sansekerta.
Latarbelakang Candi Hindu
Menilik beratnya, kemungkinan besar sejak semula kedua prasasti yang dikenal dengan Prasasti Pananggaran dan Prasasti Sumundul tersebut memang terletak di tempat itu. Keduanya berangka tahun bertahun 791 Saka atau 869 Masehi. Menilik tahun pembuatan prasasti, diduga Candi Kedulan dibangun ketika Rakai Kayuwangi memerintah Kerajaan Mataram Hindu.
Kedua prasasti tersebut memuat ketetapan bahwa penggunaan bendungan di desa Pananggaran untuk kepentingan masyarakat dan bahwa pendapatan yang dihasilkan dari bendungan itu dibebaskan dari pajak oleh negara karena digunakan untuk mendanai Candi Kedulan.
Kedua prasasti tersebut memuat ketetapan bahwa penggunaan bendungan di desa Pananggaran untuk kepentingan masyarakat dan bahwa pendapatan yang dihasilkan dari bendungan itu dibebaskan dari pajak oleh negara karena digunakan untuk mendanai Candi Kedulan.
Baik
Candi sambisari maupun Candi Kedulan merupakan candi Hindu. Bentuk dan ukuran
candi utamanya juga tidak jauh berbeda. dari segi candi Kompleks
candi tersebut dikelilingi pagar pembatas, terlihat dari adanya dinding sepanjang dua
meter dari timur ke barat.
No comments:
Post a Comment